Senin, 27 Juli 2009

Manifestasi Oral Diabetes

Sejumlah perubahan oral yang dijelaskan pada diabetes, termasuk cheilosis, mukosa kering dan pecah- pecah, rasa terbakar pada mulut dan lidah, berkurangnya aliran saliva, dengan spesies yang dominant yaitu Candida albicans, streptococcus hemolitikus, dan stafilokokus. Rasio meningkatnya karies gigi juga diamati pada diabetes yang tidak terkontrol. Harus diingat bahwa perubahan tidak selalu terlihat, tidak spesifik, dan tidak patognomonik untuk diabetes. Selain itu, perubahan yang diamati juga pada diabetes yang terkontrol. Individu dengan diabetes yang terkontrol memiliki respon terhadap jaringan yang normal, perkembangan gigi-geligi yang normal, dan perlawanan terhadap infeksi yang normal pula, dan tidak ada peningkatan insiden karies gigi.

Pengaruh diabetes pada jaringan periodonsium telah diamati secara keseluruhan. Meskipun sukar untuk membuat kesimpulan yang definitive tentang efek spesifik diabetes pada jaringan periodonsium, variasi perubahan telah dijelaskan termasuk tendensi pembesaran gingival, terbentuknya gingival polip, proliferasi gingival polipoid, terbentuknya abses, periodontitis dan kehilangan gigi. Perubahan yang paling parah pada diabetes yang tidak terkontrol adalah berkurangnya perlawanan terhadap dan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi yang menyebabkan kerusakan pada jaringan periodontal.

Periodontitis pada diabetes mellitus tipe I nampak setelah umur 12 tahun. Prevalensi periodontitis dilaporkan sebanyak 9,8% pada usia 13-18 tahun, dan meningkat sampai 39% pada usia 19 tahun dan diatasnya.

Literature untuk pernyataan ini dan pengaruh secara keseluruhan terhadap fakta tentang adanya penyakit periodontal pada diabetes mellitus tidak konsisten atau merupakan pola yang nyata. Inflamasi gingival tingkat lanjut, poket periodontal yang sangat dalam, kehilangan tulang yang cepat, dan abses periodontal sering terdapat pada pasien diabetes mellitus yang memiliki oral hygiene yang buruk (lihat gambar 12-1). Anak-anak dengan diabetes mellitus tipe I cenderung memiliki destruksi yang lebih parah di sekitar M1 dan insisivus daripada di sekitar gigi yang lain, tetapi destruksi ini menjadi lebih luas seiring dengan meningkatnya umur. Pada juvenile diabetic, destruksi periodontal yang luas sering terjadi sehubungan dengan umur pasien.

Peneliti yang lain telah melaporkan adanya rasio destruksi periodontal yang terlihat sama pada pasien diabetes atau tanpa diabetes, sampai usia 30 tahun. Setelah usia 30 tahun, terdapat derajat destruksi yang lebih parah pada pasien diabetes. Hal ini dapat dihubungkan dengan adanya penyakit destruktif pada saat itu. Pasien diabetes yang berumur lebih dari10 tahun menunjukkan destruksi yang lebih parah pada struktur periodontal daripada pasien dengan riwayat diabetes kurang dari10 tahun. Hal ini juga berhubungan dengan berkurangnya integritas jaringan yang memburuk seiring dengan waktu. Lihat penjelasan berikut ini tentang perubahan metebolisme kolagen pada diabetes.

Meskipun beberapa penelitian belun menemukan hubungan antara stadium diabetic dengan kondisi periodontal, studi yang terkontrol menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi dan keparahan penyakit periodontal pada penderita diabetes daripada yang tidak menderita diabetes, dengan factor local yang sama. Penemuan termasuk loss of attachment yang lebih parah, meningkatnya bleeding on probing, dan meningkatnya mobilitas gigi ( gambar 12-1). Perbedaan derajat diabetes pada penderita dan control pada penderita dan keparahan penyakit mengindikasikan sample pasien bertanggung jawab terhadap kurangnya konsistensi ini.

Penelitian terbaru menyatakan bahwa diabetes yang tidak terkontrol atau kurang berhubungan dengan meningkatnya kerentanan dan keparahan terhadap infeksi termasuk periodontitis. Diabetes tidak menyebabkan gingivitis atau poket periodontal, tetapi terdapat indikasi bahwa dia dapat merubah respon jaringan periodontal terhadap factor local (lihat gambar 12-1, A dan B), mempercepat bone loss dan memperlambat penyembuhan setelah pembedahan pada jaringan periodontal. Abses periodontal yang sering terjadi merupakan gejala penyakit periodontal yang terlihat pada penderita diabetes.

Sekitar 40% orang dewasa Pima India pada daerah Arizona menderita diabetes tipe 2. Perbandingan antara individu dengan atau tanpa diabetes pada suku bangsa Native Amerika menunjukkan peningkatan yang nyata pada prevalensi destruktif periodontitis, sebanyak 15% peningkatan pada edentulous, pada individu dengan diabetes. Resiko berkembangnya periodontitis destruktif meningkat sebanyak 3 kali lipat pada individu ini.

Bakteri Patogen

Pada pasien dengan riwayat diabetes, cairan gingival dan darah mengandung lebih banyak glukosa daripada yang tidak terkena, dengan skor indeks plak dan gingival yang sama. Peningkatan glukosa dalam cairan gingival dan darah pada pasien dengan riwayat diabetes dapat merubah lingkungan mikroflora, merangsang perubahan kualitatif pada bakteri yang dapat memperparah penyakit periodontal pada pasien diabetes yang kurang terkontrol.

Pasien diabetes tipe I dengan periodontitis telah dilaporkan memiliki flora subgingiva yang terdiri dari Capnocytophaga, vibrios anaerob, dan spesies Actinomyces. Porphyromonas gingivalis, Prevotella intermedia, dan Actinobacillus actinomycetecomitans, dimana lesi periodontal pada individu tanpa diabetes terlihat jarang. Pada penelitian lain, ditemukan sedikit Capnocythopaga, dan banyak Actinobacillus actinomycetecomitans dan Bacteriocides berpigmen hitam, Prevotella intermedia, P. melaninogenica, dan Campylobacter rectus. Spesies berpigmen hitam, terutama Porphyromonas gingivalis, Prevotella intermedia ,dan Campylobacter rectus banyak terdapat pada lesi periodontal suku Pima India dengan diabetes tipe 2. Hal ini menyebabkan perubahan flora pada poket periodontal pasien diabetes. Peranan utama dari bakteri ini belum ditentukan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar